Al-Qur’an Hadis: Sejarah Kehidupan Ibnu Hajar al-Asqalani (Lengkap dengan Makalah Gratis!)


    Kitab hadits sekunder tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun pada masa maraknya penyusunan kitab hadits sekunder, ulama terkesan mencukupkan diri pada kitab-kitab sebelumnya. Mereka hanya melakukan penyempurnaan atau membuat kitab baru dengan mengambil referensi dari kitab terdahulu. Namun, para ulama tersebut berkesperimen agar membaca, memahami, atau bahkan menghafal hadits terasa lebih mudah.

    Cara yang mereka gunakan adalah seperti tidak menyertakan sanadnya yang terlalu panjang. Dengan hanya menuliskan rawi dari kalangan sahabat saja. Terkadang mereka juga menambahkan penjelasan terhadap hadits yang disampaikan. Oleh karena itu, dengan adanya kitab hadits sekunder ini kajian hadits menjadi lebih berwarna dan semakin memudahkan.

    Salah satu karya dari kitab hadits sekunder ini adalah kitab Bulugh al-Maram. Kitab Bulugh al-Maram termasuk salah satu kitab hadits populer di kalangan masyarakat Indonesia. Kitab ini banyak dikaji di berbagai pondok pesantren dan juga majlis ta’lim. Oleh karena itu, pemakalah merasa perlu untuk membahas kitab Bulugh al-Maram. Maka dalam makalah ini akan dibahas biografi pengarang Kitab Bulugh al-Maram, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sistematika penulisan kitab, kelebihan serta kekurangan dari kitab ini

Biografi Ibnu Hajar 

    Nama lengkapnya adalah Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Mahmud bin Ahmad. Ia diberi gelar Syihabud din dan Syaikhul Islam, ia juga biasa dipanggil Abu Fadhl dan Abul ‘Abbas. Ibnu Hajar lahir pada 22 Sya’ban 773 H di tepi sungai Nil, Mesir. Nama Ibnu Hajar dinisbatkan pada suatu kabilah bernama Kinan yang berasal dari ‘Asqalan, sebuah kota di pesisir Syam, Palestina.

    Ibnu Hajar berasal dari keluarga yang mencintai ilmu. Ayahnya, Nuruddin merupakan seorang ahli fikih, ilmu bahasa Arab dan sastra. Nuruddin juga banyak membuat sya’ir, salah satu syairnya terkumpul dalam kitabnya “Diwan al-Haram”.

    Ayahnya wafat pada bulan Rajab 777 H. Sedangkan ibunya telah wafat ketika Ibnu Hajar masih balita. Ibnu Hajar melewati masa kecilnya sebagai yatim-piatu dan tidak mengenyam pendidikan hingga berumur lima tahun. Namun, Imam Ibnu Hajar diberkahi kecepatan dalam menghafal sejak kecil. Ia dapat menghafal setengah hizb Qur’an (seperempat juz) dalam satu hari. Diriwayatkan bahwasanya beliau pernah menghafal surat Maryam dalam satu hari.

    Imam Ibnu Hajar belajar tajwid dan menyelesaikan hafalan Qur’an pada umur sembilan tahun bersama Syihab Ahmad Al-khayuthi. Lalu beliau pindah ke Mekah pada umur 12 tahun dan belajar di sana. Ibnu Hajar belajar hadis untuk pertama kali di Mekah kepada Qadhi Al-hafizh Jamaluddin Ahmad Al-Makki dengan mempelajari kitab ‘Umdatul Ahkam, lalu kembali ke Mesir.

    Pada umur 17 tahun, Ibnu Hajar menuntut ilmu kepada Syaikh Syamsuddin Muhammad bin ‘Ali al-Misri. Beliau mempelajari Ushul fiqh, fikih, bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu lainnya. Setelah beberapa tahun, Ibnu Hajar belajar sejarah. Ilmu inilah yang kemudian membuatnya dekat dengan Ilmu Ahwalu Ar-Ruwat.

    Julukan syaikhul semakin gemilang seiring bertambahnya umur. Ia mampu mengantongi banyak ijazah atas kitab-kitab hadis seperti Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Sunan Ad-Darimi dan Jami’ Shahihkarya Imam Bukhori. Segala hal yang diraih oleh sang Imam tak lepas dari rahmat Allah Swt.

    Kesungguhan dan ketekunan sang Imam dalam menuntut ilmu membuahkan hasil gemilang yang masih dapat kita rasakan hingga sekarang. Di antara kebiasaan Ibnu Hajar dalam menuntut ilmu dan keindahan akhlaknya adalah: cepat dalam membaca hal-hal yang baik, cepat dalam menulis kebaikan, berteman dengan orang yang baik sesama penuntut ilmu, tidak ragu-ragu terhadap para pembesar, menginvestasikan seluruh waktu untuk belajar dan meneliti, rendah hati dalam menuntut ilmu, dan mampu menulis sambil mendengar.

    Tidak hanya itu, ia juga selalu bersikap ramah terhadap orang asing dan penuntut ilmu, memelihara buku-buku dengan baik, sangat memuliakan guru, rajin shalat tahajud dan berpuasa, rajin membaca Al-Quran dan mencintai orang-orang shaleh, serta selalu mengamalkan apa yang telah dipelajari.

    Ibnu Hajar belajar dari banyak guru, jumlah gurunya bahkan melebihi 200 orang. Para Imam dan Syaikh di zamannya mengakui kecerdasan dan kekuatan hafalan Ibnu Hajar. Salah satunya adalah apa yang disampaikan oleh Imam ibnu Al-Haim, “Ibnu Hajar adalah orang dengan kecerdasan mutlak, tidak ada yang melampaui kecerdasannya pada masa itu.

Perjalanan Ilmiah Ibnu Hajar

    Perjalanan hidup al Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk kuttab (semacam Taman Pendidikan al Qur’an) setelah genap berusia lima tahun. Hafal al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun. Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti al ‘Umdah, al Hawi ash Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan Milhatul I’rab.

    Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. 

Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya:

  1. Dua tanah haram, yaitu Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki Rahimahullah. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan umrah.
  2. Dimasyq (Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibu ‘Asakir Rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al Bulqini.
  3. Baitul Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.
  4. Shana’ dan beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.

Karya-Karyanya

    Kepakaran al Hafizh Ibnu Hajar sangat terbukti. Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekti ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah Ta’ala di dalam karya-karyanya, yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang lain. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Para raja dan amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar Rahimahullah. Bahkan sampai sekarang, kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya beliau Rahimahullah.

    Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

    Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi dalam kitab Ad-Dhiya’ Al-Laami’ menjelaskan bahwa karya tulis beliau mencapai lebih dari 150 karya, sedangkan dalam kitab Al-Jawaahir wad-Durar disampaikan lebih dari 270 karya.

    Al-Haafizh ibnu Hajar telah menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan menyebarkannya dengan lisan, amalan dan tulisan. Beliau telah memberikan jasa besar bagi perkembangan beraneka ragam bidang keilmuan untuk umat ini.

Tulisan-tulisan Ibnu Hajar, antara lain:

  1. Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
  2. An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
  3. Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
  4. Taghliq At-Ta’liq.
  5. At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh Al-Wajiz (At-Talkhis Al-Habir).
  6. Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah.
  7. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.
  8. Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzabbi an Musnad Al-Imam Ahmad.
  9. Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Al-Kasyyaf.
  10. Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib.
  11. Al-Mathalib Al-Aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
  12. Nukhbah Al-Fikri fi Mushthalah Ahli Al-Atsar.
  13. Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikr


BONUS: Download Makalah  Al-Qur’an Hadis
👉silahkan DOWNLOAD filenya.






Al-Qur’an Hadis: Sejarah Kehidupan Ibnu Hajar al-Asqalani (Lengkap dengan Makalah Gratis!)  Al-Qur’an Hadis: Sejarah Kehidupan Ibnu Hajar al-Asqalani (Lengkap dengan Makalah Gratis!) Reviewed by NfdhilahMMs on Februari 25, 2021 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.