Tari Andun merupakan tarian yang hanya terdapat di Provinsi Bengkulu, namun tari Andun ini banyak dikenal di Kabupaten Bengkulu Selatan karena di Kabupaten inilah pertama dikenalnya istilah tari Andun. Tari Andun dari zaman dahulu sampai saat ini tidak diketahui siapa penciptanya dan tahun berapa tari ini pertama sajikan dalam pengelaran tari, karena kurangnya informasi yang dipublikasikan kepada masyarakat.
Menurut Dali Yazid yang sebagai sesepuh adat dan juga pelatih tari Andun di Sanggar Rentak Selatan menjelaskan bahwa Tari Andun merupakan salah satu tarian dari kebudayaan suku Serawai, tarian ini telah lama di kenal oleh masyarakat Kabupaten Bengkulu Selatan. Seperti sejarah suku Serawai, informasi yang didapat hanya dari cerita orang tua. Tari Andun ini pertama kali ditampilkan pada acara kerajaan yaitu pernikahan Putri Bungsu dari kerjaan Dangku Rajau Mudau di kerajaan Dang Tuanku Limau Serumpun dengan Sungai Ngiang Pagar Ruyung di Kabupaten Bengkulu Selatan yang tepatnya terletak pada kota Manna pada zaman dahulu (Dali Yazid,2017). Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan narasumber Dali Yazid (2017) data yang diperoleh bahwa sejarah tari Andun dimana tari Andun pertama kali ditemukan dan ditarikan sebagai berikut: Menggunakan tarian pada acara pernikahan merupakan sebuah rasa tanda bersyukurnya Dayang Remunai yaitu ibunda dari Rajau Mudau atas keselamatan Putri Bungsu yang pada waktu itu telah dibawa oleh Imam Jaya dari Rajau Sangkalawi untuk diculik. Perintah yang telah diberikan oleh Dayang Remunai, diperintahlah kakak dari Rajau Mudau yaitu Cindur Matau untuk menyelamatkan Putri Bungsu dengan melakukan cara membawa seekor kerbau jantan sebagai hadiah untuk Kerajaan Sangkalawi agar tidak diketahui perbuatannya. Setalah Putri Bungsu diselamatkan oleh Cindur Matau dan dibawa kembali ke Kerajaan. Maka, proses acara pernikahan dari Putri Bungsu dan Rajau Mudau tersebut akan segera dilaksanakan dengan menggunakan acara adat yang dilakukan selama tujuh hari tujuh malam di kerajaan yang disebut dengan Bimbang Adat (upacara perkawinan). Pada proses Bimbang adat ini masyarakat diperbolehkan datang dan dipersilahkan untuk menari berpasangan sebagai ungkapan rasa kegembiraan dan syukur dalam melaksanakan acara, tarian yang dilakukan pada acara pernikahan tersebut dikenal dengan sebutan tari Andun.
Pada dasarnya tari Andun ini digolongkan menjadi dua golongan berdasarkan dengan kelompok yang melakukan pertunjukan atau penari, yaitu tari Kebanyakan yang menari hanya kelompok penari putra dan kelompok penari putri, sedangankan tari Lelawanan ditarikan dengan cara berpasangan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan narasumber seniman Dali Yazid (2017) data yang diperoleh bahwa selama acara Bimbang tujuh hari tujuh malam terdapat beberapa tarian yang disajikan, setiap tarian yang ditampilkan memiliki fungsi dan urutan yang berbeda seperti berikut:
- Tari Kebanyakan (tari pembukaan), tarian ini disajikan sebagai tari pembukaan pada setiap acara yang menampilkan tari Andun, tarian ini dilakukan pada malam hari yaitu malam Gegerit setelah melakukan acara adat maupun acara pernikahan pada siang harinya.
- Tari Lelawanan ini dilakukan pada malam yang sama setelah melakukan tari Kebanyakan, tapi tari ini memiliki fungsi yang berbeda karena tarian ini merupakan tarian untuk ajang mencari jodoh. Tarian ini hanya diperbolehkan untuk para putra dan putri dewasa yang belum memiliki pasangan dan belum pernah menikah, berasal dari kampung yang berbeda dan tidak memiliki keterkaitan hubungan darah, karena adat suku Serawai tidak memperbolehkan orang menikah dengan adanya ikatan persaudaraan.
- Tari Kebanyakan Numbak Kebau, ini adalah tari yang dilakukan pada puncak acara, namun masih ada beberapa tarian yang hanya sebagai tarian perpisahan. Tarian ini sama dengan tarian sebelumnya yaitu tari Kebanyakan, tapi tarian ini dilaksanakan pada pagi hari yang diawali oleh kelompok laki-laki yang mewakili pengantin putra dan menyusul kelompok perempuan dari kelompok pengantin putri.
- Tari Lelawanan, tarian ini sama dengan tarian yang dilakukan pada saat malam hari, namun tarian ini ditampilkan kembali pada siang hari setelah tari Numbak Kebau. Tarian ini ditampilkan pada saat pengantin duduk bersama dengan kepala adat dan ninik mamak dari kedua belah pihak pengantin sambil menunggu masakan gulai kerbau. Tarian ini ditampilkan oleh kelompok putra dan kelompok putri yang belum pernah menikah, 12 karena telah di atur oleh empat laki-laki yang menjadi sebagai bujang inang.
- Tari Palak Tanggau, tarian ini hanya dilakukan oleh pihak pengantin putri yang disebut bunting berserta keluarganya dan dipersembahkan untuk keluarga pengantin putra.
- Tari Lelawan Perpisahan, tarian ini dilakukan pada malam terakhir acara malam Gegerit sebelum acara perkawinan selesai. Tarian ini merupakan tari perpisahan untuk kedua pengantin sebagai tanda melepas masa bujang atau gadis karena telah menjadi sepasang suami istri. Tarian ini hanya dipersembahkan oleh pengantin, namun dapat dilakukan dengan orang lain apabila mendapatkan izin dari pengantin putri.
Pada keenam tarian yang ditarikan pada acara adat maupun pernikahan itu disebut dengan tari Andun dalam masyarakat Kabupaten Bengkulu Selatan. Tarian ini diberi nama tari Andun oleh masyarakat suku Serawai yang ada di Kabupaten Bengkulu Selatan terutama masyarakat yang berada di lingkungan kerajaan Dang Tuanku Limau Serumpun. Pada saat acara perkawinan Putri Bungsu dan Putra Rajau Mudau, seluruh masyarakat di undang datang untuk melihat dan mengikuti acara besar ini. Tari Andun ini dinamakan berawal dari kata datang yang dalam bahasa suku Serawai yaitu Andun, dan kalimat sengaja untuk datang beramai-ramai yang berarti ngandun atau datang untuk mempererat silahturahmi (Dali Yazid,2017).
Gerakan tari Andun ini hanya ada 3 macam, yaitu :
- Mbukak; yaitu seluruh jari dibuka dengan telapak kanan menghadap ke luar ( lihat gambar ) . Gerakan kakinya tetap maju 3 langkah dan mundur 3 langkah . Makna gerakan ini adalah sebagai doa semoga terjalin keterbukaan antara suami istri dalam mengarungi hidup berumah tangga.
- Naup; yaitu kedua tangan ditarik kesamping sejajar bahu (gadis) dengan keempat jari tangan seperti mengepal bertumpu pada jari jempol. ( lihat gambar ). Sedangkan para bujang tangannya sejajar telinga membentang seperti bentuk tanduk kerbau. Maju 3 langkah, mundur 3 langkah sambil terus berbelok 3 penjuru (depan, belakang, kanan, dan kiri). Makna gerakan ini adalah doa semoga sepasang pengantin dapat meraup banyak rezki, hidup rukun, kompak, dan keempat jari yang bertumpu pada jari jempol tadi bermakna kepatuhan istri pada suami sebagai imamnya.
- Nyentang/nyengkeling; gerakan ini menggunakan property selendang. Nyentang adalah gerakan para gadis yang membentangkan selendangnya selebar-lebarnya tangan, menutupi kedua buah dada ( lihat pada gambar ) Makna gerakan ini yaitu adanya keterikatan bathin antara suami istri yang sedang menikah dan diharapkan sang istri dapat menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya saja. Sedangkan Nyengkeling adalah gerakan pengantin lanang dan para bujang yang menarik tangannya ke belakang sambil membentangkan selendang. Gerakan nyengkeling ini bermakna bahwa seorang suami harus dapat melindungi hidup istrinya dan bermakna juga bahwa seorang istri sudah berada dalam ikatan suaminya.
- Pola Lantai pada tarian yang terdapat dalam tari Andun, pola lantai yang terkandung disetiap tariannya memiliki perbedaan. Tari Andun Kebanyakan memiliki pola lantai yang membentuk garis lingkaran, 20 sedangkan tari Andun Lelawanan memiliki pola lantai dengan membentuk garis lurus.
- Pada tari Andun terdapat dua gerakan langkah kaki yang digunakan yaitu langkah maju dan mundur ( lihat gambar ). Tari Andun Lelawanan memiliki syarat langkah dalam gerakannya yaitu pada saat melakukan gerakan tari, penari putra dan penari putri tidak boleh berhadapan dan tidak boleh saling membelakangi.






Tidak ada komentar: