Indonesia yang berada di bumi bagian timur ini memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tanah yang subur sehingga memudahkan tumbuhnya berbagai tumbuhan termasuk rempah – rempah yang menjadi salah satu incaran dari berbagai penjuru dunia.
Datangnya para Bangsa Barat ke Indonesia menciptakan sejarah yang tak terlupakan dan terus diabadikan. Berhasilnya mereka mendapatkan tujuannya inilah awal dari adanya sejarah rakyat Indonesia. Bangsa Barat memiliki kepandndaian dan kelicikan sehingga mereka dapat mengusai Nusantara dengan berbagai cara. Tidak berhenti di situ, mereka juga menjajah dengan mengeksploitasi kekayaan Indonesia dengan memanfaatkan tenaga manusia pribumi tanpa memberi upah.
Kesewenang – wenangan inilah yang menimbulkan perlawanan dari rakyat pribumi di berbagai daerah untuk mengusir dan menghapuskan penjajahan. Proses penjajahan di Indonesia adalah proses perjuangan yang tidak akan cukup tergambarkan dalam satu atau dua buku. Berbagai pristiwa yang pernah dialami maupun berbagai peninggalan yang masih tersisa merupakan saksi yang masih banyak menyimpan rahasiah yang mungkin belum mampu terungkap.
Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Portugis
Pada tahun 1511 portugis berhasil menguasai Malaka. Kondisi ini menyebabkan perdagangan di monopoli oleh Portugis. Pedagang asing, khususnya pedagang Islam dilarang Berdagang di wilayah Malaka. Praktik monopoli yang diterapkan Portugis di Malaka sebenarnya memberi keuntungan bagi Aceh. Tunggu menjadi pelabuhan transito yang sangat ramai. Akan tetapi kedudukan Portugis di Malaka menjadi ancaman sekaligus hambatan bagi Sultan Iskandar Muda untuk mewujudkan cita-citanya yaitu menguasai Malaka. Sebaliknya menganggap Pelabuhan Aceh yang semakin ramai menjadi Ancaman bagi Portugis.
Komoditas utama yang dihasilkan Aceh adalah lada. Sudah menjadi Komoditas utama yang mendominasi permintaan pasar dunia. Oleh karena itu, portugis berusaha menaklukkan Aceh agar dapat memonopoli perdagangan lada di wilayah Indonesia.
Kedudukan Portugis di Malaka Ternyata dianggap Ancaman bagi Aceh. Untuk menghadapi serangan Portugis yang bisa terjadi sewaktu-waktu Aceh melengkapi kapal-kapal dagangnya dengan senjata, prajurit, dan meriam. Aceh juga melakukan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan lain seperti Turki, Kalikut, dan Demak.
detail lihat difile
Perlawanan Rakyat Maluku Terhadap Portugis Dan Voc
Bangsa Portugis berhasil memasuki Kepulauan Maluku pada tahun 1521. Mereka memusatkan aktivitasnya di Ternate. Tidak berselang lama kemudian orang-orang Spanyol juga memasuki Kepulauan Maluku dengan memusatkan kedudukannya di Tidore. Lalu terjadilah persaingan antara kedua belah pihak.
Persaingan tersebut semakin tajam setelah Portugis berhasil menjalin persekutuan dengan Ternate dan Spanyol bersahabat dengan Tidore. Semua ini tidak terlepas dari ambisi bangsa-bangsa Barat untuk menguasai perdagangan dan menanamkan kekuasaannya di Maluku. Mereka sering memanfaatkan kelemahan kaum pribumi termasuk memanfaatkan intrik-intrik yang membuat perpecahan di lingkungan istana.
Pada tahun 1529 terjadilah pertempuran antara Tidore melawan Portugis. Penyebab perang ini karena kapal-kapal Portugis menembaki jung-jung dari Banda yang akan membeli cengkih ke Tidore. Tentu saja Tidore tidak dapat menerima tindakan armada Portugis. Rakyat Tidore angkat senjata. Terjadilah perang antara Tidore melawan Portugis. Dalam perang ini Portugis mendapat dukungan dari Ternate dan Bacan. Akhirnya Portugis mendapat kemenangan.
detail lihat difile
Perlawanan Mataram Terhadap VOC
Sultan Agung merupakan raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan. Perlawanan Sultan Agung terhadap VOC dilatar belakangi oleh beberapa hal. Salah satu alasannya yaitu karena cita-cita Sultan Agung.
Cita-cita Sultan Agung
- Mempersatukan seluruh tanah Jawa
- Mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara.
Terkait dengan cita-citanya ini maka Sultan Agung sangat menentang keberadaan kekuatan VOC di Jawa. Apalagi tindakan VOC yang terus memaksakan kehendak untuk melakukan monopoli perdagangan membuat para pedagang Pribumi mengalami kemunduran.
Kebijakan monopoli itu juga dapat membawa penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia.
Alasan Sultan Agung Menyerang Batavia
- Tindakan monopoli yang dilakukan VOC;
- VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka;
- VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram; dan
- Keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan Pulau Jawa.
Pada tahun 1628 Sultan Agung mempersiapkan pasukan Mataram dengan segenap persenjataan dan perbekalannya untuk menyerang VOC di Batavia. Pada waktu itu yang menjadi Gubernur Jenderal VOC adalah J.P. Coen. Pada tanggal 22 Agustus 1628, pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa menyerang Batavia. Pasukan Mataram berusaha membangun pospos pertahanan, tetapi kompeni VOC terus berusaha menghalang-halangi. Akibatnya pertempuran antara kedua pihak tidak dapat dihindarkan.
detail lihat difile
Perlawanan Banten Terhadap VOC
Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa – Banten memiliki posisi yang strategis sebagai bandar perdagangan internasional. Oleh karena itu, sejak semula Belanda ingin menguasai Banten, tetapi tidak pernah berhasil. Akhirnya VOC membangun Bandar di Batavia pada tahun 1619. Terjadi persaingan antara Banten dan Batavia memperebutkan posisi sebagai bandar perdagangan internasional. Oleh karena itu, rakyat Banten sering melakukan serangan-serangan terhadap VOC.
Pada tahun 1651, Pangeran Surya naik tahta di Kesultanan Banten. Ia adalah cucu Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Karim, anak dari Sultan Abu al- Ma’ali Ahmad yang wafat pada 1650. Pangeran Surya bergelar Sultan Abu al- Fath Abdulfatah. Sultan Abu al-Fath Abdulfatah ini lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. la berusaha memulihkan posisi Banten sebagai bandar perdagangan internasional sekaligus menandingi perkembangan VOC di Batavia. Beberapa kebijakannya misalnya mengundang para pedagang Eropa lain seperti Inggris, Perancis, Denmark, dan Portugis.
detail lihat difile

Tidak ada komentar: